find article

Custom Search

Friday, August 1, 2008

UNDANGAN LAUNCHING VIDEO KOMUNITAS

Pada era teknologi dewasa ini, media massa menjadi sebuah mesin
raksasa yang mendefinisikan masyarakat sebagai penonton, objek pasif
yang menerima apa yang disampaikannya. Pesan dan makna yang dimuat
oleh media massa pun cenderung dikendalikan oleh budaya mainstream
demi menyesuaikan dengan tuntutan pasar yang berarti keuntungan bagi
penguasa media tersebut. Bagaimana dengan sekelompok masyarakat yang
selama ini termarginalkan oleh budaya mainstream itu, sementara media
massa mainstream yang ada justru melanggengkan sterotipe dan
diksriminasi terhadap mereka? Lewat media apa mereka bisa bersuara?
Media Komunitas kemudian lahir sebagai jawaban atas permasalahan
tersebut. Kelahiran fenomena ini berkembang bersamaan dengan
berkembangnya teknologi media modern yang semakin lama menjadi
semakin murah dan mudah untuk diakses oleh banyak kalangan,. Dari
majalah atau koran komunitas berkembang ke radio komunitas, dan
kemudian berkembang pula video komunitas. Video komunitas sebagai
pemberdaya persoalan-persoalan sosial komunitas bisa dilahirkan
dengan perkembangan teknologi yang ada, mengubah posisi kelompok
masyarakat yang selama ini terpinggirkan menjadi diakui keberadaannya
dalam masyarakat, menempatkan mereka sebagai subjek alih-alih objek
media.
Berdasarkan asumsi itulah, PKBI DIY mencoba menggandeng komunitas
yang selama ini menjadi mitra strategis programnya untuk memproduksi
video komunitas. Namun, dalam kerja advokasi, selesainya produksi
video komunitas bukan berarti selesai pula tugas untuk memberikan
pendidikan kritis kepada masyarakat mengenai isu-isu yang dihadapi
oleh komunitas remaja jalanan, pekerja seks perempuan, gay, dan waria
tersebut. Perjuangan mendapatkan penerimaan masyarakat dan pemenuhan
hak sebagai warga negara justru baru dimulai. Launching Video
Komunitas ini diselenggarakan untuk memfasilitasi dialog antara
komunitas dengan masyarakat dan aparat pemerintah melalui media audio
visual yang dirancang dan diproduksi oleh komunitas itu sendiri yang
terbiasa berhadapan langsung dengan masyarakat dan aparat pemerintah
dengan segala permasalahannya.

TEMPAT & WAKTU
Hari/ Tanggal : Jumat/ 1 Agustus 2008
Waktu : 13.00 – 17.00 WIB
Tempat : Gedung Radyo Suyoso Kompleks Kepatihan Yogyakarta

PEMBICARA DISKUSI
Pada sesi diskusi akan dihadirkan para pembicara yaitu:
1.Kris Budiman (Akademisi Film, Pusat Kajian Media dan Budaya Pasca
Sarjana UGM)
2.Arif Noor Hartanto (Ketua DPRD Kota Yogyakarta)
3.Susmex (Perwakilan Video Komunitas)

SINOPSIS VIDEO KOMUNITAS

1.WONDERFUL WORLD – GAY
Melalui film berdurasi 20 menit ini, komunitas gay mencoba
menampilkan sisi lain kehidupan gay di Yogyakarta. Jika selama ini
gay seringkali dianggap sebagai kaum hedonis dan hanya berkutat di
dunia entertainment, plus stigma buruk tentang gay sebagai gangguan
kejiwaan dan penyebar HIV, maka video ini mendobrak semua hal itu.
Diawali dengan tampilan peraturan-peraturan daerah yang diskriminatif
terhadap kaum gay dan lesbian serta opini-opini yang dikemukakan oleh
masyarakat Yogyakarta mengenai homoseksual, film dokumenter ini
kemudian menceritakan 4 orang gay yang mampu menunjukkan prestasi di
bidangnya masing-masing tanpa terikat oleh stigma-stigma yang ada.
Mereka adalah aktivis, atlet, pengusaha, dan penulis.
Selain tokoh gay, beberapa narasumber yang mewakili ilmu psikologi,
antropologi, budayawan, peneliti, dan aktivis LGBT memberikan
penjelasan tentang homoseksualitas secara historis maupun psikologis
yang selama ini kurang diketahui oleh masyarakat.

2.MENGGUGAT LEWAT SUARA MALAM – PEKERJA SEKS PEREMPUAN
Dua orang pekerja seks mengawali film dengan durasi 19 menit
ini dengan menceritakan pengalaman mengapa mereka memilih menjadi
pekerja seks, respon keluarga setelah mengetahui pekerjaannya sebagai
pekerja seks, serta perjuangan untuk membesarkan anak dengan menjadi
pekerja seks.
Beberapa pekerja seks lain kemudian menceritakan pengalaman
mereka mendapatkan perilaku diskriminatif dan kekerasan dari aparat
keamanan ketika terjadi razia seperti ditarik sampai jatuh,
penggerebekan kamar yang padahal tidak berada di area lokalisasi,
denda atau kurungan. Para pekerja seks ini juga mengkritisi peraturan
daerah yang dibuat oleh pemerintah tanpa adanya tindak lanjut yang
dapat menjamin kehidupan pekerja seks.
Aktivis kemanusiaan juga memberikan pendapat dalam film dokumenter
ini. Mereka melihat permasalahan ini tidak lepas dari budaya
patriarki dan ketidakpahaman aparat terhadap aturan hukum

3.UNTITLED – REMAJA JALANAN
Film yang dibuat oleh Minority (komunitas remaja jalanan) ini
menampilkan kutipan Pembukaan dan Pasal 34 UUD 1945 sebagai pembuka
untuk menunjukkan bahwa setiap warga negara memiliki hak untuk
dilindungi.
Namun, kontras dengan UUD tersebut, seorang remaja jalanan perempuan
memberikan gambaran bagaimana remaja jalanan perempuan sering
mendapat perlakuan kasar yang berujung pada pelecehan seksual dan
pemerkosaan. Hal ini memperlihatkan bahwa remaja jalanan tidak
mendapatkan perlindungan bahkan dalam komunitasnya sendiri.
Aparat keamanan, seperti Satpol PP, justru menambah tindak kekerasan
terhadap remaja jalanan melalui razia yang represif, tidak manusiawi,
dan tanpa tindak lanjut yang efektif, seperti diceritakan oleh
beberapa remaja jalanan dalam film ini. Dalam film berdurasi 20 menit
ini, masyarakat juga memberikan opini mereka tentang remaja jalanan.

4.BEGITU SALAH BEGITU BENAR – WARIA
Film dengan durasi 13 menit ini diawali dengan pendapat-pendapat
masyarakat mengenai waria. Beberapa orang masih berpendapat waria
adalah sesuatu yang melanggar kodrat dan merasa tidak nyaman dengan
kehadiran waria, walaupun beberapa orang yang lainnya bisa menerima
kehadiran waria sebagai individu yang unik.
Beberapa waria kemudian memberikan komentar mengenai kehidupan mereka
sebagai waria. Mereka mengharapkan waria dapat diterima dan
diperlakukan dengan baik oleh pemerintah dan warga masyarakat lain
serta mendapatkan kesetaraan di bidang pendidikan, pekerjaan,
kesehatan, dan lainnya.
Waria-waria dalam film ini ditampilkan memiliki keterampilan yang
dapat digunakan sebagai mata pencaharian, bukan hanya sebagai pekerja
seks seperti yang diketahui kebanyakan orang. Perjuangan identitas
waria dimulai dari komunitas waria itu sendiri dengan mendobrak
stigma yang ada.

No comments:

Post a Comment

 

Copyright 2007 All Right Reserved. shine-on design by Nurudin Jauhari. and Published on Free Templates